Pengertian PETA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Pengertian Peta
Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia,
yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu
bidang datar dengan skala tertentu. Beberapa jenis peta secara umum dapat
dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu :
Peta Rupabumi:
peta yang menampilkan sebagian unsur-unsur buatan manusia (kota, jalan,
struktur bangunan lain) serta unsur alam (sungai, danau, gunung, dsb) pada
bidang datar dengan skala dan proyeksi tertentu. Peta Rupabumi dalam istilah
asingnya sering disebut sebagai Topographic Map.
Peta Tematik:
peta yang menyajikan tema tertentu dan untuk kepentingan tertentu (land
status, penduduk, transportasi dll.) dengan menggunakan peta rupabumi yang
telah disederhanakan sebagai dasar untuk meletakkan informasi tematiknya.
Instansi yang bertanggung jawab terhadap pembuatan Peta Rupabumi Indonesia
adalah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional disingkat BAKOSURTANAL atau sekarang kita kenal dengan BGI (badan Informasi
Geospasial). Selain itu BAKOSURTANAL juga menyediakan penyiapan dan
mempublikasikan seri-seri peta dasar nasional atau peta rupabumi. Peta dasar
nasional tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan peta- peta
tematik, misalnya Peta Tematik Sumberdaya Alam Nasional.
1.2.
Informasi Peta
Peta rupabumi dapat berfungsi dengan baik bila seorang pemakai dapat
membaca informasi peta dengan mudah. Membaca peta merupakan suatu kegiatan
tahap awal di dalam menggunakan peta. Kegiatan ini tidak terbatas pada
kemampuan untuk menafsirkan simbol, teks, dan gambar saja namun perlu memahami
sepenuhnya terhadap keadaan lapangan yang digambarkan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membaca peta adalah:
1.
Skala peta, erat kaitannya dengan ukuran geometri bumi,
misalnya perbandingan jarak di lapangan dengan jarak di peta.
2.
Simbol, merupakan penggambaran dari kenampakan yang ada di
permukaan bumi.
3.
Sistem koordinat, berkaitan dengan penentuan posisi obyek
yang di lapangan.
4.
Arah Utara, panduan arah ke target Utara di peta dan
dipakai sebagai penunjuk arah ke utara bila kita berada di lapangan.
Pada dasarnya dalam sebuah Peta Rupabumi Indonesia akan ditemui 2 (dua)
informasi, yaitu:
a)
Muka peta, merupakan bagian pokok peta yang menunjukkan
sejumlah obyek yang ada di daerah tertentu dan termasuk informasi tersebut.
b)
Informasi tepi peta, merupakan bagian peta yang berisi
penjelasan secara detil, yang dapat membantu menggunakan peta.
Desain Peta Rupabumi Indonesia dibuat sedemikian rupa dan dituangkan dalam
suatu spesifikasi teknis. Spesifikasi ini selanjutnya diterbitkan dalam bentuk
buku dan telah merupakan produk SNI (Standar Nasional Indonesia). Tata letak
seri Peta Rupabumi Indonesia produksi BAKOSURTANAL dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
Gambar 1.1. Bagian-bagian Peta Rupabumi Indonesia Informasi yang ditampilkan pada muka peta adalah kenampakan- kenampakan yang menggambarkan unsur-unsur sebagai berikut:
Buatan manusia, seperti: jalan, rel kereta api, bangunan, sawah, dan
sebagainya
Perairan, seperti: danau, rawa, sungai, dan sebagainya
Unsur alam, seperti: gunung, bukit, pegunungan, lembah, dan sebagainya
Tumbuhan, seperti: hutan, semak belukar, padang rumput, dan sebagainya
Unsur di atas adalah kenampakan-kenampakan yang nyata wujudnya. Unsur yang
tidak nyata tetap akan ditampilkan, misalnya: koordinat geografi dan koordinat
sistem proyeksi (L, B, dan X, Y), garis kontur, batas administrasi dll.
Walaupun unsur tersebut bersifat abstrak, namun merupakan unsur penting di
dalam menggambarkan permukaan bumi.
Penggambaran obyek atau kenampakan di lapangan pada suatu peta digunakan
bentuk simbol. Simbol dapat berupa diagram, desain, huruf, karakter atau
singkatan yang ditempatkan pada peta. Simbol-simbol yang digunakan pada peta
harus memiliki bentuk yang mudah dikenali dan jelas. Namun demikian ada pula
simbol-simbol peta yang perlu dijelaskan artinya. Penjelasan simbol-simbol ini
dapat diketahui pada legenda (keterangan). Perlu diperhatikan bahwa simbol
letaknya terdapat di dalam muka peta, sedangkan legenda letaknya di informasi
tepi.
Keberadaan sejumlah simbol pada peta akan tergantung pada skala peta.
Suatu simbol belum tentu akan selalu tampil pada setiap skala peta yang
berbeda, demikian pula sebaliknya. Hal ini tergantung dari obyek yang
menentukan karakteristik daerah yang digambarkan. Secara umum ada 3 (tiga)
bentuk simbol peta, yaitu: titik, garis, dan area. Simbol titik misalnya
menggambarkan pusat ibukota administrasi, bandara, pelabuhan, dan sebagainya.
Simbol garis menggambarkan obyek linier, misalnya jalan, rel kereta api, sungai,
dan sebagainya. Sedangkan simbol area membentuk suatu luas area, misalnya
sawah, hutan, danau, pemukiman, dan sebagainya.
Selain menampilkan kenyataan di muka bumi dengan menggunakan simbol titik,
garis, dan area, peta juga menampilkan bentuk permukaan bumi yang diwakili oleh
kontur. Kontur adalah garis khayal untuk menggambarkan semua titik yang
mempunyai ketinggian yang sama di atas atau di bawah permukaan datum tertentu
yang disebut permukaan laut rata-rata (mean sea level).
Informasi lainnya yang terdapat pada peta rupabumi adalah sistem koordinat
gratikul atau geografi dan sistem koordinat proyeksi Transvere Mercator (TM)
atau lebih dikenal sistem koordinat grid Universal Transverse Mercator (UTM).
Kedua sistem koordinat ini digunakan untuk menentukan posisi suatu obyek di
peta atau di lapangan.
INFORMASI TEPI
Tata letak informasi tepi pada Peta Rupabumi Indonesia publikasi
BAKOSURTANAL telah dibakukan untuk memudahkan pengguna dalam membaca peta.
Informasi tepi yang terdapat pada sebelah kanan dan bagian bawah muka peta
rupabumi sebagai berikut:
Gambar 2.1. Tata letak informasi tepi
3.1.
Judul Peta
Pada kolom judul peta dapat ditemukan informasi sebagai contoh berikut:
Judul Peta : Peta Rupabumi
Indonesia
Skala : 1:25.000
Nomor Lembar : 1209-143
Nama Lembar : Bogor
Edisi (Tahun Penerbitan / Pencetakan) : I-1998
Kelima unsur di atas adalah suatu kesatuan yang merupakan identitas suatu
peta rupabumi. Bilamana seseorang menginginkan peta dengan lokasi tertentu,
maka ia harus mengetahui nomor lembar peta (misal: 1029-143) atau menunjukkan
nama lokasi di suatu daerah (misal: Bogor) dan skala peta yang dimaksud. Untuk
lebih jelasnya lihat gambar 2.2.
3.2.
Petunjuk Letak Peta dan Diagram Lokasi
Petunjuk letak peta menunjukkan nomor dan nama lembar peta terhadap nomor
dan lembar peta di sekelilingnya. Biasanya matrik petunjuk peta berukuran 3 x
3, dan lembar peta yang sesuai judul berada di tengah-tengah. Petunjuk letak
peta sangat membantu pengguna di dalam mencari nomor lembar peta-peta yang
bersebelahan.
Diagram lokasi menunjuk letak nomor peta pada area yang lebih luas,
misalnya bagian dari Provinsi Jawa Barat.
3.3.
Informasi Sistem Referensi
Informasi sistem referensi terdiri dari informasi sistem proyeksi, sistem
grid, datum horizontal dan vertikal, satuan tinggi, dan selang kontur. Proyeksi
peta adalah penggambaran sistematis dari garis-garis di atas permukaan bidang
datar untuk menggambarkan garis-garis paralel dari lintang dan garis-garis
meridian dari bujur bumi dari sebagian permukaan atau keseluruhan bola bumi.
Grid peta adalah sistem koordinat persegipanjang yang ditumpang susun
terhadap peta atau suatu penggambaran dari permukaan bumi yang mempunyai
karakteristik dan ketelitian tertentu, sehingga dapat mengidentifikasi lokasi
di permukaan bumi terhadap lokasi lainnya dan juga dipakai untuk perhitungan
arah dan jarak terhadap titik lain.
Proyeksi peta yang digunakan pada peta rupabumi Indonesia adalah proyeksi
Transverse Mercator (TM) sedangkan sistem grid mengikuti sistem grid Universal
Transverse Mercator (UTM). Datum yang dipakai biasanya datum horisontal dan
datum vertikal. Sesuai dengan perkembangan, di Indonesia mengalami beberapa
penggunaan datum, misalnya Datum Indonesia 1974 (ID-1974). Saat ini dipakai
Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-1995) atau WGS’84 untuk peta rupabumi yang
dibuat setelah tahun 1995.
Gambar 2.4. Informasi Sistem Referensi
3.4.
Informasi Pembuat dan Penerbit Peta
Informasi pembuat dan penerbit peta merupakan instansi yang bertanggung
jawab terhadap pembuatan dan penerbitan Peta Rupabumi Indonesia, dalam hal ini
BAKOSURTANAL. Peta rupabumi produksi BAKOSURTANAL ini juga dilindungi oleh
Undang-Undang Hak Cipta (Copy Rights) No 19 tahun 2002
Gambar 2.5. Informasi Pembuat dan Penerbit Peta
3.5.
Informasi Nama dan Nomor Lembar Peta
Informasi
nama sangat penting untuk memudahkan pengguna mencari lokasi yang diinginkan.
Nomor lembar dibuat secara sistematis untuk memudahkan pencarian pada indeks
peta.
Gambar 2.6. Informasi Nama dan Nomor Lembar Peta
Suatu daftar atau tabel yang menunjukkan tanda-tanda atau simbol-simbol
konvensional yang digunakan pada peta disertai warna dan deskripsinya
ditampilkan di sebelah kanan tengah dari peta. Daftar ini lazim disebut dengan
keterangan atau legenda.
Catatan riwayat peta diletakkan pada sebelah kanan di bawah daftar
keterangan (legenda) yang menerangkan tentang sumber data untuk penyusunan
peta, metode kompilasi, tahun pemotretan foto udara, survei lapangan, catatan
penting lain misalnya “Peta ini bukan referensi resmi batas administrasi
nasional atau internasional”.
3.8.
Petunjuk Pembacaan Koordinat Geografi dan UTM
Tabel
petunjuk pembacaan koordinat geografi dan koordinat grid UTM diletakkan di
sebelah kanan bawah. Tulisan berwarna biru untuk pembacaan koordinat Geografi
dan tulisan berwarna hitam untuk koordinat grid UTM. Petunjuk koordinat
bertujuan memberikan ilustrasi bagaimana pengguna membaca koordinat geografi
atau koordinat grid UTM. Salah satu indikasi biasanya diberikan contoh titik
tinggi beserta nilai ketinggian atau simbol bangunan dan nama obyek (misalnya:
Kebonpedes)
Gambar 2.8. Petunjuk pembacaan koordinat geografi
Gambar 2.9. Petunjuk pembacaan koordinat UTM
Pada dasarnya sistem koordinat pada peta rupabumi menggunakan sistem
koordinat grid geografi (gratikul) dengan warna biru, sedangkan grid UTM
diberikan pada keempat sisi peta dan diberi warna hitam. Koordinat geografi
mempunyai satuan derajat, menit dan detik. Lintang geografi diberi indikasi
Utara (U) atau Selatan (S). Bujur geografi untuk wilayah Indonesia akan selalu
mengarah ke Timur (T). Contoh salah satu koordinat pojok kanan bawah peta (L, B
atau , ) : = 115o 15’ 00” T dan = 08o 45’ 00”. Koordinat yang sama bila
dihitung dalam sistem grid UTM adalah X, Y : 0307491 mT dan 9032336 mU.
Gambar 2.10. Koordinat Geografi dan koordinat UTM
3.9.
Pembagian Daerah Administrasi
Pembagian
daerah administrasi merupakan sketsa dari gambaran pembagian wilayah
administrasi sebenarnya yang ada pada isi peta. Gambar ini dapat membantu para
pembaca peta mengetahui cakupan wilayah yang dipetakan. Pembagian wilayah
administrasi tersebut meliputi wilayah propinsi, kabupaten, kecamatan, dan
desa.
Gambar 2.11. Pembagian daerah administrasi pada peta
rupabumi skala 1:25.000
3.10.
Skala Grafis
Terdapat
2 (dua) tipe skala, yaitu skala numerik dan skala grafis. Skala numerik adalah
skala yang dinyatakan dengan angka, misalnya 1:25.000, diletakkan secara jelas
di bagian kanan atas peta dan juga di bagian tengah bawah, biasanya di atas
skala grafis. Skala grafis diletakkan di bagian tengah bawah dan umumnya
dinyatakan dalam kilometer. Skala grafis digambarkan dalam bentuk unit batang
disertai nilai per unit. Contoh: satu unit batang mempunyai satuan panjang 2
km; satuan ini dapat dibagi lagi menjadi 10 bagian. Jadi satu bagian kecil
adalah 200 meter (lihat gambar 2.12.)
Gambar 2.12. Skala grafis pada peta rupabumi skala 1:50.000
3.11.
Singkatan atau Kesamaan Arti (Glosari)
Peta umumnya menampilkan sejumlah singkatan atau kesamaan arti (glossary).
Singkatan atau nama-nama geografi antara satu daerah dengan daerah lainnya
tidak selalu sama. Glosari diletakkan di bagian bawah, sebelah kanan/kiri skala
grafis. Sebagai contoh, sebutan sungai di daerah Jawa barat (Ci) tidak sama
dengan di Pulau Bali (Tukad, Yeh, Pangkung). Contoh singkatan, Tel = Teluk; Tg
= Tanjung, dan sebagainya.
3.12.
Utara Sebenarnya (US), Utara Grid (UG) dan Utara Magnetik (UM)
Setiap peta mempunyai informasi yang perlu untuk menentukan arah
sebenarnya, arah grid dan arah magnetik atas garis manapun pada peta. Informasi
ini diberikan dalam bentuk diagram dengan catatan penjelasan. Diagram ini
diletakkan di bagian paling kiri bawah.
Gambar 2.13. Utara Sebenarnya (US), Utara Grid (UG), Utara
Magnetik (UM) dan informasi yang menyertainya.
BAB III
SKALA PETA DAN PENGUKURAN JARAK
3.1.
Skala Peta
a.
Pengertian Skala
Skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas peta
dengan jarak tersebut di permukaan bumi. Pada peta skala 1:50.000, jarak 1 cm
di peta berati 50.000 cm atau 500 meter di lapangan.
Andaikan kita mengukur jarak = 3 cm di peta skala 1:50.000, ini berarti
jarak di lapangan adalah:
3 cm di peta = 3 x 50.000 cm atau
150.000 cm, atau
= 1500 meter = 1,5 km di lapangan
b.
Pernyataan Skala Peta
Ada dua (2) cara menyatakan skala pada peta, yaitu:
1. Cara numerik atau angka, misalnya
1:25.000, 1:50.000, 1:100.000, dan lainnya.
2. Cara grafis, seperti gambar di
bawah ini Skala 1:250.000
Skala 1:50.000
Skala 1:25.000
Gambar 3.1. Skala-skala grafis pada peta rupabumi
c.
Perbandingan Antar Skala Peta
Kedetilan isi peta akan bergantung pada tingkat di mana peta akan
digambar. Peta berskala besar kedetilannya lebih lengkap dibandingkan dengan
peta berskala kecil.
Batasan antara peta berskala besar, menengah dan kecil tidak dijelaskan
secara baku. Namun, untuk kebutuhan praktis dapat dipakai pengelompokkan produk
peta rupabumi BAKOSURTANAL, sebagai berikut
Skala peta Jarak 1 cm di peta
mewakili jarak
horisontal di lapangan:
1 : 10.000 100 meter
1 : 25.000 250 meter = ¼ km
1 : 50.000 500 meter = ½ km
1 : 100.000 1.000 meter = 1 km
1 : 250.000 2.500 meter = 2 ½ km
d. Dampak Perubahan Skala pada Peta
Seorang pengguna peta perlu juga memahami dampak perubahan skala 12 m membaca peta. Proses pengecilan peta dikenal dengan istilah generalisasi, misalnya dari skala 1:50.000 menjadi skala 1:250.000 (lihat gambar 3.2.). Generalisasi adalah suatu proses penyederahanaan peta yang disebabkan adanya pengecilan atau turunan peta dari skala besar ke skala kecil dengan mempertahankan ciri/karakteristik utama dari peta yang bersangkutan. Hal-hal yang dilakukan dalam generalisasi adalah:
Pemilihan; dalam proses ini dilakukan pemilihan terhadap obyek yang harus dipertahankan atau dihilangkan, tetapi hasil akhirnya obyek tersebut harus tetap mempertahankan ciri aslinya. Contoh pada gambar 3.2 adalah pemilihan sungai atau anak sungai mana yang akan dipertahankan dan yang harus dihilangkan.
Penyederhanaan; dilakukan penghilangan sebagian bentuk ketidakteraturan
akibat proses pengecilan skala. Pada gambar ditunjukan penyederhanaan terhadap
garis tepi danau.
Kombinasi; umumnya dilakukan terhadap area pemukiman, sebagaimana nampak
pada gambar 3.2. Pembesaran;
obyek ditampilkan tidak dengan ukuran sebenarnya tetapi perlu dilakukan
pembesaran. Umumnya dilakukan terhadap obyek yang berupa jalan.
Gambar 3.2. Penyederhanaan obyek dengan skala yang berbeda
dari 1:50.000 ke 1:250.000 dengan cara generalisasi
Perubahan skala dari 1:50.000 ke skala 1:250.000 tidak dibenarkan
dilakukan langsung, namun harus melalui beberapa tahap. Perubahan harus dimulai
dari pengecilan ke skala 1:100.000 lalu dilanjutkan ke skala 1:250.000.
Perubahan skala peta tidak dibenarkan dilakukan untuk sebaliknya, yaitu dari
skala yang lebih kecil ke skala yang lebih besar.
3.2.
Mengukur Jarak
a.
Jarak Lurus
Untuk mengukur suatu jarak lurus antara dua titik dengan cara meletakkan
sepotong kertas yang bertepi lurus tepat pada dua titik tersebut. Pada masing-
masing titik diberi tanda dengan garis pendek. Lalu letakkan kertas tadi pada
skala grafis peta dengan titik yang sebelah kanan ada pada salah satu titik
angka skala di sebelah kanan, sehingga titik yang sebelah kiri berada pada
pembagian sebelah kiri titik nol. Total jarak adalah dari pembagian angka yang
besar (sebelah kanan) dan ditambah dengan yang ada pada pembagian sebelah kiri
dari titik nol.
b.
Menggunakan Skala Tersendiri
Skala yang tersendiri, misalnya dalam bentuk protaktor (busur derajat)
dapat digunakan untuk mengukur jarak pendek pada peta. Tapi perlu diketahui
bahwa pada saat mengukur jarak yang panjang, kertas peta bisa mengembang atau
menyusut cukup besar. Padahal bahan dari metal, plastik, dan kayu tidak
demikian. Skala yang digambar pada peta juga akan mengembang dan menyusut
bersama peta tersebut. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu digunakan skala
yang konformal dengan detil pada peta.
c.
Menggunakan Garis-garis Grid
Garis-garis grid dalam peta rupabumi diwakili oleh garis-garis tanda
pendek (garis tik). Jarak antar garis-garis tik ini selalu tetap dan dapat
digunakan untuk menentukan jarak antara dua titik secara cepat. Skala yang
tersendiri bisa diperiksa atau dicocokkan terhadap garis-garis tik ini sebelum
digunakan untuk menyakinkan bahwa antara peta dan skala ini cocok.
d.
Mengukur Suatu Jarak Jalan
Untuk mengukur suatu jarak yang tidak lurus, misal sepanjang jalan atau
sungai, maka anggaplah obyek tersebut sebagai beberapa potongan garis- garis
lurus atau hampir lurus. Letakkan sepotong kertas dengan tepi yang lurus pada
potongan pertama. Berilah tanda pada titik awal dan titik akhir potongan
pertama tersebut. Berikutnya putar kertas terhadap titik akhir tadi sampai
kertas terletak berhimpit dengan potongan kedua. Tandai titik akhir potongan
kedua ini, dan ulangi terus proses ini sampai titik terakhir ditandakan pada
tepi kertas. Jarak total sepanjang jalan sekarang telah berpindah pada kertas
tersebut sebagai garis yang lurus, dan selanjutnya dapat dibaca terhadap garis
skala.
BAB IV
LEGENDA PETA
Legenda peta dibuat untuk menjelaskan simbol-simbol yang terdapat di dalam
peta. Simbol di dalam peta dikelompokkan sebagai berikut :
4.1.
Gedung dan Bangunan Lainnya
Gedung dan bangunan yang dimaksudkan dalam hal ini antara lain pemukiman,
bangunan, tempat ibadah, kuburan, kantor, sekolah, dll. Pemukiman ditampilkan
dengan simbol area berwarna oranye dan diberi garis tepi berwarna hitam.
Sedangkan bangunan, sesuai dengan skalanya ditampilkan dengan simbol titik yang
berwarna hitam. Tapi perlu diketahui bahwa simbol bangunan yang berupa kotak
segiempat berwarna hitam bukan berarti menunjukkan sebagai rumah atau bangunan
tunggal, melainkan merupakan gambaran bahwa di lokasi tersebut terdapat
bangunan-bangunan atau kumpulan bangunan.
Gambar 4.1. Contoh simbol gedung dan bangunan lainnya
Informasi yang menyertai pemukiman atau bangunan biasanya berupa teks yang
menerangkan nama bangunan atau pemukiman tersebut. Jenis dan ukuran huruf yang
dipakai untuk nama tempat (kota atau desa) mempunyai arti penting untuk
membedakan status kelas tempat tersebut. Masalahnya adalah sempitnya ruang pada
peta, untuk itu maka dimanfaatkan huruf besar atau kecil dalam menyatakan
perbedaan kelas. Ukuran huruf semakin kecil jika tingkat atau kelas tempat
tersebut juga semakin rendah (nama kampung lebih kecil daripada nama kota).
Pada peta rupabumi skala 1:25.000 cukup banyak simbol-simbol untuk
bangunan, yang umumnya berwarna hitam. Simbol-simbol bangunan umumnya
menunjukkan ciri alami dari obyek yang disimbolkan, misalnya simbol gereja akan
menyertakan gambar salib, simbol masjid akan menyertakan gambar bulan sabit.
Unsur simbol perhubungan yang dipetakan antara lain jalan, jalan kereta
api, jembatan, stasiun, terminal bis, lapangan terbang dan obyek-obyek lain
yang berkaitan.
Simbol jalan, khususnya jalan raya, digambarkan dengan garis ganda
berwarna hitam dengan warna isian merah. Semakin tinggi kelas jalan maka
semakin lebar simbolnya. Garis tunggal dan putus-putus menunjukkan tingkat
kelas jalan tersebut yang lebih rendah, misalnya jalan lain dan jalan setapak.
Sesuai dengan spesifikasi teknis Peta Rupabumi Indonesia, kelas jalan
dibagi menjadi 5 (lima), yaitu:
Jalan arteri, yaitu setara jalan negara (yang menghubungkan antar ibukota
propinsi), jalan propinsi (yang menghubungkan antar ibukota kabupaten), jalan
bypass, jalan lingkar dan jalan bebas hambatan (jalan tol).
Jalan kolektor, yaitu setara jalan kabupaten (menghubungkan antar
kecamatan).
Jalan lokal, yaitu jalan di dalam kota.
Jalan lain-lain, yaitu setara jalan kecamatan (yang menghubungkan antar
desa).
Jalan setapak, yaitu jalan kecil yang penting (misalnya di tengah hutan
atau di atas gunung) namun bukan untuk lalu lintas kendaraan bermotor.
Jembatan digambarkan bersilangan dengan sungai atau jalan lain. Pada
bagian tepi jembatan umumnya dibuat dengan garis yang tebal. Jika jembatan
tersebut berupa titian maka digambarkan x pada bagian persilangannya. Sedangkan
terowongan dan tambangan digambar dengan garis putus-putus.
Jalan atau rel kereta api digambarkan dengan simbol garis tunggal berwarna
hitam. Umumnya hanya dibedakan dengan jalan kereta api rangkap dan jalan kereta
api tunggal. Kelas yang lebih rendah diberikan untuk jalan lori, yaitu dengan
mengurangi ketebalan garisnya.
Gambar 4.2. Contoh simbol perhubungan
4.3.
Tumbuh-tumbuhan
Unsur tumbuh-tumbuhan di dalam peta berupa sawah irigasi dan tadah hujan,
kebun/perkebunan, hutan, semak/belukar, tegalan/ladang, rumput/tanah kosong,
dan hutan rawa. Unsur tumbuh-tumbuhan pada umumnya dibatasi dengan garis warna
hijau, disertai dengan simbol-simbol yang membentuk pola tertentu untuk pohon
atau tanaman.
Gambar 4.3. Simbol tumbuh-tumbuhan
Untuk sawah irigasi diberi simbol kotak-kotak teratur berwarna biru, dan
untuk sawah tadah hujan simbol kotak-kotak tidak teratur. Warna biru
menggambarkan unsur air yang terkandung pada sawah. Sawah irigasi adalah lahan
yang diusahakan untuk padi dengan cara irigasi, sedangkan sawah tadah hujan
adalah lahan yang diusahakan untuk padi dengan cara tadah hujan.
Hutan ditampilkan dengan pola isian tidak teratur berwana hijau, sedangkan
semak/ belukar dengan pola isian yang sama tetapi memiliki kerapatan yang lebih
rendah daripada hutan. Kebun/perkebunan diberi isian warna hijau tanpa pola,
demikian pula dengan tegalan/ladang diberi warna
kuning tanpa pola. Untuk daerah yang berumput dan lahan kosong tidak
diberi isian warna atau putih saja. Sedangkan hutan rawa disimbolkan dengan
warna hijau dan berpola garis putus-putus berwana biru.
4.4.
Relief dan Titik Kontrol
Relief adalah istilah umum untuk menunjukkan bentuk permukaan lapangan
pada bidang vertikal. Penyajian relief di peta dengan cara menunjukkan tinggi
dan bentuk permukaannya, di atas atau di bawah datum yang biasanya dipakai,
yaitu permukaan laut. Penyajian relief pada peta rupabumi memiliki tingkat
kelengkapan dan ketelitian bermacam-macam sesuai dengan skalanya.
Gambar 4.4. Simbol relief dan titik kontrol
Unsur relief umumnya diberi warna oranye dan hitam. Warna oranye
menggambarkan keadaan relief tanah biasa dan warna hitam menggambarkan kondisi
daerah yang berbatu atau diperkeras.
Sedangkan titik kontrol digambarkan dengan simbol titik dengan angka untuk
Titik Tinggi, segitiga dengan titik untuk Titik Triangulasi, persegi dengan
titik untuk Titik Tinggi Geodesi (TTG) dan bintang untuk Titik Astronomi (A)
dan Gaya Berat (GB). Titik tinggi dengan angka menunjukkan tinggi suatu lokasi
dalam satuan meter di atas permukaan laut. Titik triangulasi terdapat 3 (tiga)
kelas yaitu primer (P), sekunder (S) dan tertier (T).
4.5.
Batas Administrasi
Simbol untuk batas administrasi biasanya selalu garis tunggal dengan
ketebalannya bervariasi, garis putus-putus atau kombinasi titik-titik di antara
garis putus-putus tersebut. Batas administrasi internasional biasanya ditambah
dengan strip warna untuk menonjolkan penyajiannya.
Gambar 4.5. Simbol batas administrasi
Unsur perairan umumnya diberi warna biru dengan garis batas (outline)
biru. Unsur perairan yang dimaksud antara lain laut, rawa, empang, penggaraman,
sungai, danau, bendungan, dan lainnya.
Penggaraman digambarkan sebagai suatu area dengan isian warna biru muda
dan batas garis tepi berwarna hitam. Sedangkan empang diberi isian warna biru
dengan pola kotak-kotak tidak teratur berwarna putih.
Sungai, anak sungai, kanal irigasi, dan selokan akan digambarkan dalam
garis ganda, jika skalanya memungkinkan. Tetapi jika sebaliknya maka hanya
dengan garis tunggal saja.
Gambar 4.6. Simbol perairan
CARA MEMBACA KONTUR
5.1.
Pengertian Kontur
Kontur adalah garis khayal untuk menggambarkan semua titik yang mempunyai
ketinggian yang sama di atas atau di bawah permukaan datum tertentu yang
disebut permukaan laut rata-rata. Kontur digambarkan dengan interval vertikal
yang reguler. Interval kontur adalah jarak vertikal antara 2 (dua) garis
ketinggian yang ditentukan berdasarkan skalanya. Besarnya interval kontur
sesuai dengan skala peta dan keadaan di muka bumi. Interval kontur selalu
dinyatakan secara jelas di bagian bawah tengah di atas skala grafis.
Tabel Interval dan Indeks Kontur
|
Skala Peta |
Interval Kontur |
Indeks Kontur |
|
1:10.000 |
5 meter |
25 meter |
|
1:25.000 |
12,5 meter |
50 meter |
|
1:50.000 |
25 meter |
100 meter |
|
1:100.000 |
50 meter |
200 meter |
|
1:250.000 |
100 meter |
500 meter |
Kontur biasanya digambar dalam bentuk garis-garis utuh yang kontinyu
(biasanya berwarna cokelat atau oranye). Setiap kontur keempat atau kelima
(tergantung pada intervalnya) dibuatlah indeks, dan digambarkan dengan garis
yang lebih tebal. Kontur indeks dimaksudkan untuk membantu pembacaan kontur dan
menghitung kontur untuk menentukan tinggi. Angka (ketinggian) kontur diletakkan
pada bagian kontur yang diputus, dan diurutkan sedemikian rupa agar terbaca
searah dengan kemiringan ke arah atas (lebih tinggi).
Pada daerah datar yang jarak horisontalnya lebih dari 40 mm sesuai skala
peta dibuat garis kontur bantu. Kontur bantu ini sangat berarti terutama jika
ada gundukan kecil pada daerah yang datar. Kontur bantu digambar pada peta
berupa garis putus-putus untuk membedakan dengan kontur standar
Gambar 5.1. Kontur indeks dan titik-titik tinggi pada peta rupabumi skala 1:25.000
5.2.
Bentuk Kontur
Bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk permukaan lahan yang sebenarnya.
Kontur-kontur yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang terjal, kontur-kontur
yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai. Jika kontur-kontur itu
memiliki jarak satu sama lain secara tetap, maka kemiringannya teratur.
Beberapa catatan tentang kontur sebagai berikut:
a.
Kontur adalah kontinyu (bersinambung). Sejauh mana pun
kontur berada, tetap akan bertemu kembali di titik awalnya. Perkecualiannya
adalah jika kontur masuk ke suatu daerah kemiringan yang curam atau nyaris
vertikal, karena ketiadaan ruang untuk menyajikan kontur-kontur secara terpisah
pada pandangan horisontal, maka lereng terjal tersebut digambarkan dengan
simbol. Selanjutnya, kontur-kontur akan masuk dan keluar dari simbol tersebut.
b.
Jika kontur-kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka
bentuk lereng disebut konveks (cembung), dan memberikan pandangan yang pendek.
Jika sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan konkav (cekung), dan
memberikan pandangan yang panjang.
c. Jika pada kontur-kontur yang berbentuk meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan lapangannya merupakan daerah yang undulasi (bergelombang).
d. Kontur-kontur yang rapat dan tidak teratur menunjukkan lereng yang patah-patah. Kontur-kontur yang halus belokannya juga menunjukkan permukaan yang teratur (tidak patah-patah), kecuali pada peta skala kecil pada umumnya penyajian kontur cenderung halus akibat adanya proses generalisasi yang dimaksudkan untuk menghilangkan detil-detil kecil (minor)
Kenampakan yang tidak berubah dengan penggambaran kontur adalah bukit dan
lembah. Bentuk permukaan lahan tidak berubah cukup berarti meskipun ada
bangunan gedung, jalan, pemotongan pepohanan (hutan atau perkebunan).
Penafsiran yang benar terhadap bentuk permukaan lahan membutuhkan latihan,
praktek dan pengalaman yang memadai di lapangan.
5.3.
Membuat Potongan Profil
Untuk membuat suatu potongan profil yang utuh antara dua titik A dan B
pada peta berkontur, gambarlah sebuah garis lurus pada peta antara titik-titik
tersebut. Temukan kontur-kontur rendah dan tinggi yang terpotong oleh garis.
Pada gambar 5.4 kontur yang tertinggi adalah 200 meter, dan yang terendah
adalah 80 meter.
Letakkan secarik kertas dengan tepi yang lurus sepanjang garis AB, dan
tandai pada titik A dan titik B tersebut juga titik-titik di mana kontur-kontur
memotong garis. Berilah label angka tinggi.
Gambar 5.4. Pemotongan garis kontur
Dari masing-masing tanda turunkan garis tegak lurus pada kertas. Sejajar
dengan pinggiran yang sudah ditandai gambar garis-garis paralel dengan skala
yang sesuai untuk menunjukkan angka tinggi dari masing-masing kontur yang
dipotong oleh garis AB, yaitu 80 sampai dengan 200 meter. Buat sebuah tanda
pada setiap garis vertikal di mana itu memotong skala tinggi sejajar sesuai
dengan tingginya pada garis AB. Gabungkan tanda-tanda ini dengan suatu garis
kurva yang halus, memungkinkan untuk membentuk lereng permukaan antara
kontur-kontur di lembah dan di puncak bukit. Penggunaan kertas milimeter atau
grid akan memudahkan penggambaran.
Gambar 5.5. Potongan yang menunjukkan intervisibilitas
5.4.
Menentukan Gradien Jalan Pada Peta
Kemiringan suatu lereng (slope) biasanya didefinisikan sebagai suatu
gradien. Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah gradien 2 dalam 16, artinya 2
unit vertikal untuk setiap 16 unit pada arah horisontal. Selama kedua unit
tersebut sama pada kedua arah, maka tidak ada bedanya apapun satuan panjangnya
(meter atau pun kaki). Gradien tersebut biasanya ditulis sebagai 2/16.
Gambar
5.6. Kemiringan lereng atau slope
Kadangkala gradien dinyatakan dalam persentase. Untuk mengkonversinya
adalah mengalikan perbandingan dengan bilangan 100%, yaitu:
2/16 x 100% = 1,25%
Untuk menentukan gradien suatu titik di jalan pada suatu peta, ukur jarak
horisontal antara kontur-kontur yang berurutan pada peta dan nyatakan dalam
unit yang sama seperti pada angka interval kontur. Misalnya, jika interval
kontur 10 meter dan jarak yang diukur di peta antara dua kontur yang berurutan
tersebut adalah 120 meter, maka gradien rata-ratanya antara dua kontur adalah
10/120 = 1/12 atau 1 dalam 12 atau 8,5%
Untuk menentukan gradien yang paling terjal dari suatu jalan, temukan
titik di mana dua kontur yang berturutan saling berdekatan, kemudian ukurlah
seperti prosedur di atas
Suatu gradien rata-rata dapat diukur dengan cara yang sama terhadap
beberapa interval kontur, meskipun hal ini tidak banyak berarti kecuali ada
kemiringan lereng yang konstan pada arah yang sama.
Jika dibutuhkan untuk memeriksa bahwa gradien maksimum sepanjang suatu
jalan tidak melebihi 1/6, dan interval kontur adalah 10 meter, maka jarak
antara kontur-kontur tadi tidak boleh kurang dari 6 x 10 = 60 meter. Tandailah
pada sepotong kertas suatu jarak 60 meter pada skala peta, interval kontur
dapat diperiksa untuk melihat apakah jarak pada titik mana pun lebih pendek
dari jarak yang ditentukan. Jika demikian halnya maka gradiennya lebih terjal
dari 1/6.
BAB VI MEMBACA INDEKS PETA
6.1. Ukuran lembar peta
Semua lembar peta harus tepat antara satu dengan lainnya, demikian pula ukurannya harus sama untuk setiap
lembar. Ukuran lembar peta tergantung dari
skala peta yang dibuat. Ukuran lembar Peta Rupabumi Indonesia mengacu pada sistem grid UTM sebagai berikut
:
Tabel 6.1. Ukuran lembar peta berdasarkan skala peta
|
Skala Peta |
Ukuran Lintang
(L) |
Ukuran Bujur (B) |
|
1 : 1.000.000 |
4 |
6 |
|
1 : 500.000 |
2 |
3 |
|
1 : 250.000 |
1 |
1 30’ |
|
1 : 100.000 |
30‘ |
30’ |
|
1 : 50.000 |
15’ |
15’ |
|
1 : 25.000 |
7’ 30” |
7’ 30” |
|
1 : 10.000 |
2’ 30” |
2’ 30” |
Dari Tabel 6.1 dapat kita lihat terjadi beberapa variasi luas cakupan area peta, sehingga pembagian suatu
nomor lembar peta (NLP) memberikan jumlah matriks
yang tidak seragam, misalnya berjumlah 4 atau 9. Seri nomor lembar peta rupabumi dimulai dari skala 1:250.000 (4 digit) lalu diturunkan sampai
ke skala 1:10.000
(8 digit).
Gambar 6.1. Sistematika ukuran peta mulai dari skala
1:1.000.000 sampai skala 1:10.000 (Sumber: BAKOSURTANAL, 1998 dengan
modifikasi)
6.2. Nomor Lembar Peta
Setiap negara mempunyai sistem penomoran peta masing-masing. Oleh karena
itu nomor peta umumnya unik. Sistem penomoran peta rupabumi Indonesia dalam
bentuk kode numerik. Dari nomor tersebut dapat diketahui lokasi dimana suatu
daerah berada lengkap dengan skala petanya. Seri peta dasar Rupabumi yang
diterbitkan oleh BAKOSURTANAL mengikuti aturan sebagai berikut, sebagai contoh
|
Nomor NLP |
Keterangan |
|
1209 |
Nomor lembar
peta skala 1 : 250.000, format 1x130’ Satu NLP dibagi menjadi 6 NLP pada skala 1:100.000 masing-masing berukuran 30’ x 30’ |
|
1209 - 1 |
Nomor lembar peta skala 1 : 100.000, format
30’ x 30’. Satu NLP dibagi menjadi 4 NLP pada skala 1 : 50.000 masing-masing berukuran 15’ x 15’ |
|
1209 - 43 |
Nomor lembar peta skala 1 : 50.000,
format 15’ x 15’ Satu NLP
dibagi menjadi 4 NLP pada skala 1 : 25.000 masing-masing berukuran 7’30” x 7’30” |
|
1209 - 224 |
Nomor lembar
peta skala 1 : 25.000,
format 7’30”x7’30” Satu NLP dibagi menjadi 9 NLP pada skala 1 : 10.000 masing-masing berukuran 2’30”x2’30” |
|
1209 - 6229 |
Nomor lembar peta skala 1 : 10.000,
format 2’30”x2’30” |
Gambar 6.2. Contoh urutan penomoran Peta Rupabumi Indonesia (sumber: BAKOSURTANAL, 1998 dengan modifikasi)
Komentar
Posting Komentar