Sejarah-Mengenal Manusia Purba
1. Sangiran
Perjalanan kisah perkembangan manusia di dunia tidak dapat kita lepaskan dari keberadaan bentangan luas perbukitan tandus yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Lahan itu dikenal dengan nama Situs Sangiran. Di dalam buku Harry Widianto dan Truman Simanjuntak, Sangiran Menjawab Dunia diterangkan bahwa Sangiran merupakan sebuah kompleks situs manusia purba dari Kala Pleistosen yang paling lengkap dan paling penting di Indonesia, dan bahkan di Asia. Lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan manusia dunia, yang memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150.000 tahun yang lalu. Situs Sangiran itu mempunyai luas delapan kilometer pada arah utara-selatan dan tujuh kilometer arah timur-barat. Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di bagian puncaknya. Kubah raksasa itu diwarnai dengan perbukitan yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil manusia purba dan binatang, termasuk artefak. Berdasarkan materi tanahnya, Situs Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluvio-vulkanik, tanahnya tidak subur dan terkesan gersang pada musim kemarau.
Sangiran pertama
kali ditemukan oleh P.E.C. Schemulling tahun 1864, dengan laporan penemuan
fosil vertebrata dari Kalioso, bagian dari wilayah Sangiran. Semenjak
dilaporkan Schemulling situs itu seolah-olah terlupakan dalam waktu yang lama.
Eugene Dubois juga pernah datang ke Sangiran, akan tetapi ia kurang tertarik
dengan temuan-temuan di wilayah Sangiran. Pada 1934, Gustav Heindrich Ralph von
Koeningswald menemukan artefak litik di wilayah Ngebung yang
terletak sekitar dua km di barat laut kubah Sangiran. Artefak litik itulah yang
kemudian menjadi temuan penting bagi Situs Sangiran. Semenjak penemuan von oeningswald, Situs Sangiran menjadi sangat
terkenal berkaitan dengan penemuan-penemuan fosil Homo erectus secara sporadis dan
berkesinambungan. Homo erectus adalah takson paling penting dalam sejarah manusia, sebelum
masuk pada tahapan manusia Homo sapiens, manusia modern.
Situs Sangiran tidak
hanya memberikan gambaran tentang evolusi fsik manusia saja, akan tetapi juga
memberikan gambaran nyata tentang evolusi budaya, binatang, dan juga lingkungan.
Beberapa fosil yang ditemukan dalam seri geologis-stratigrafs yang diendapkan
tanpa terputus selama lebih dari dua juta tahun, menunjukkan tentang hal itu.
Situs Sangiran telah diakui sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia.
Situs itu ditetapkan secara resmi sebagai Warisan Dunia pada 1996, yang
tercantum dalam nomor 593 Daftar Warisan Dunia (World Heritage
List)
UNESCO
|
|
Sumber: Harry Widianto dan Truman Simanjuntak. 2011. Sangiran
Menjawab Dunia (Edisi Khusus). Jawa
Tengah: Balai Pelastarian Gambar 1. Sertifkat
the Sangiran early man |
|
Perhatikan
baik-baik gambar fosil |
Sumber : Dok. Harry WIdianto Balai
Pelestarian Situs Manusia Purba Saingiran Gambar
2. Fosil Manusia Purba
yang ditemukan di Sangiran |
2.
Trinil, Ngawi, Jawa Timur
Sebelum penemuannya
di Trinil, Eugene Dubois mengawali temuan Pithecantropus erectus di Desa
Kedungbrubus, sebuah desa terpencil di daerah Pilangkenceng, Madiun, Jawa
Timur. Desa itu berada tepat di tengah hutan jati di lereng selatan Pegunungan Kendeng.
Pada saat Dubois meneliti dua horizon/lapisan berfosil di Kedungbrubus
ditemukan sebuah fragmen rahang yang pendek dan sangat kekar, dengan sebagian
prageraham yang masih tersisa. Prageraham itu menunjukkan ciri gigi manusia
bukan gigi kera, sehingga diyakini bahwa fragmen rahang bawah tersebut milik rahang
hominid. Pithecantropus itu kemudian dikenal dengan Pithecantropus A. Trinil
adalah sebuah desa dipinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah administrasi Kabupaten
Ngawi, Jawa Timur.
Tinggalan purbakala
telah lebih dulu ditemukan di daerah ini jauh sebelum von Koeningswald
menemukan Sangiran pada 1934. Ekskavasi yang dilakukan oleh Eugene Dubois di
Trinil telah
membawa penemuan sisa-sisa manusia purba
|
|
Sumber
: Harry Widianto dan Truman Gambar
3. Fosil-fosil temuan di |
yang sangat berharga
bagi dunia pengetahuan. Penggalian Dubois dilakukan pada endapan alluvial Bengawan
Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap tengkorak
Pithecanthropus
erectus,
dan beberapa
buah tulang paha (utuh dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan
tegak.
Tengkorak Pithecanthropus erectus dari Trinil sangat pendek tetapi
memanjang ke belakang.
Volume otaknya sekitar 900 cc, di antara otak kera (600 cc) dan otak manusia
modern (1.200-1.400
cc). Tulang kening sangat menonjol dan di bagian belakang mata, terdapat
penyempitan yang sangat
jelas, menandakan otak yang belum berkembang. Pada bagian belakang kepala
terlihat bentuk yang
meruncing yang diduga pemiliknya merupakan perempuan. Berdasarkan kaburnya
sambungan perekatan antartulang kepala,
ditafsirkan inividu ini telah mencapai usia dewasa.
Selain tempat-tempat di atas, peninggalan manusia purba tipe ini juga ditemukan
di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa Tengah; dan
Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.
Temuan berupa tengkorak anak-anak berusia sekitar 5 tahun oleh penduduk yang
sedang membantu penelitian Koeningswald dan Duyfjes perlu untuk
dipertimbangkan. Temuan itu menjadi bahan
diskusi yang menarik bagi para ilmuwan. Metode pengujian penanggalan
potasium-argon yang digunakan oleh Tengku Jakob dan Curtis terhadap batu apung
yang terdapat disekitar fosil tengkorak itu menunjukkan angka 1,9 atau kurang
lebih 0,4 juta tahun. Pengujian juga dilakukan dengan mengambil sampel endapan batu apung dari dalam
tengkorak dan menunjukkanangka 1,81 juta tahun. Hasil uji penanggalan-penanggalan
tersebut menjadi perdebatan para ahli dan perlu untuk dikaji lebih lanjut.
Bila penanggalan itu
benar, maka tengkorak anak Homo erectus dari Perning, Mojokerto ini merupakan individu Homo erectus tertua di Indonesia.
Adakah diantara kamu yang tertarik untuk melakukan pengujian ini?
Temuan Homo erectus juga ditemukan di
Ngandong, yaitu sebuah desa di tepian Bengawan Solo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Tengkorak Homo erectus Ngandong berukuran besar dengan volume otak rata-rata 1.100 cc.
Ciri-ciri ini menunjukkan Homo erectus ini lebih maju bila dibandingkan dengan Homo erectus yang ada di
Sangiran. Manusia Ngandong diperkirakan
berumur antara 300.000-100.000 tahun. Berdasarkan beberapa penelitian yang
dilakukan oleh para
ahli, dapatlah direkonstruksi beberapa jenis manusia purba yang pernah hidup di
zaman pra-aksara.
1. Jenis
Meganthropus
Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian
von Koeningswald di Sangiran tahun 1936 dan 1941 yang menemukan fosil rahang
manusia yang berukuran besar. Dari hasil rekonstruksi ini kemudian para ahli
menamakan jenis
manusia ini dengan sebutan Meganthropus paleojavanicus, artinya manusia raksasa dari Jawa.
Jenis manusia purba ini memiliki ciri rahang yang kuat dan badannya tegap.
Diperkirakan makanan jenis manusia ini adalah tumbuhtumbuhan. Masa hidupnya
diperkirakan pada zaman Pleistosen Awal.
2.
Jenis Pithecanthropus
Jenis manusia ini didasarkan pada penelitian Eugene Dubois tahun
1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, di wilayah Ngawi.
Setelah direkonstruksi terbentuk kerangka manusia, tetapi masih terlihat
tanda-tanda kera. Oleh karena itu jenis ini dinamakan Pithecanthropus
erectus,
artinya manusia kera yang berjalan tegak. Jenis ini juga ditemukan di
Mojokerto, sehingga disebut Pithecanthropus
mojokertensis. Jenis manusia purba yang juga terkenal sebagai rumpun Homo erectus ini paling banyak
ditemukan di Indonesia. Diperkirakan jenis manusia purba ini hidup dan berkembang
sekitar zaman Pleistosen Tengah.
3. Jenis
Homo
Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh von Reitschoten di
Wajak. Penelitian dilanjutkan
oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan dan menyimpulkan sebagai jenis Homo.
Ciri-ciri jenis manusia Homo ini muka lebar, hidung dan mulutnya menonjol. Dahi
juga masih menonjol, sekalipun tidak semenonjol jenis Pithecanthropus. Bentuk
fsiknya tidak jauh berbeda dengan
manusia sekarang. Hidup dan perkembangan jenis manusia ini sekitar 40.000 –
25.000 tahun yang lalu. Tempat-tempat penyebarannya tidak hanya di Kepulauan
Indonesia tetapi juga di Filipina dan Cina Selatan.
Homo sapiens artinya ‘manusia sempurna’ baik dari segi fsik, volume otak
maupun postur badannya yang secara umum tidak jauh berbeda dengan manusia
modern. Kadang-kadang Homo
sapiens juga diartikan dengan ‘manusia bijak’ karena telah lebih maju
dalam berpikir dan menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah mereka muncul ke
bumi pertama kali dan kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru dunia
hingga saat ini? Para ahli paleoanthropologi dapat melukiskan perbedaan
morfologis antara Homo sapiens dengan pendahulunya, Homo erectus. Rangka Homo sapiens kurang kekar posturnya dibandingkan Homo erectus.
Salah satu alasannya karena tulang belulangnya tidak setebal dan
sekompak Homo erectus.
Hal ini mengindikasikan bahwa secara fsik Homo sapiens jauh lebih lemah
dibanding
sang pendahulu tersebut. Di lain pihak, ciri-ciri morfologis maupun biometriks Homo sapiens
menunjukkan
karakter yang lebih berevolusi dan lebih modern dibandingkan dengan Homo
erectus.
Sebagai misal, karakter evolutif yang paling signifkan adalah bertambahnya
kapasitas
otak. Homo sapiens mempunyai kapasitas otak yang jauh lebih besar (rata-rata 1.400
cc), dengan
atap tengkorak yang jauh lebih bundar dan lebih tinggi dibandingkan dengan Homo erectus yang
mempunyai tengkorak panjang dan rendah, dengan kapasitas otak 1.000 cc.
Segi-segi morfologis dan tingkatan kepurbaannya menunjukkan ada
perbedaan yang sangat nyata antara kedua spesies dalam genus Homo tersebut. Homo sapiens akhirnya tampil
sebagai spesies yang sangat tangguh dalam beradaptasi dengan lingkungannya, dan
dengan
cepat menghuni berbagai permukaan dunia ini.
|
|
Sumber : Harry
Widianto dan Truman Simanjuntak. 2011. Sangiran Menjawab Dunia (Edisi
Khusus). Jawa Tengah: Balai Pelastarian Situs Manusia Purba Sangiran. Gambar 5. Rekonstruksi
tengkorak Homo erectus |
Berdasarkan bukti-bukti penemuan, sejauh ini manusia
modern awal di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara paling tidak telah hadir
sejak 45.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, kehidupan manusia modern
ini dapat dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu (i) kehidupan manusia modern
awal yang kehadirannya hingga akhir zaman es (sekitar 12.000 tahun lalu), kemudian
dilanjutkan oleh (ii) kehidupan manusia modern yang lebih belakangan, dan
berdasarkan karakter fsiknya dikenal sebagai ras Austromelanesoid. (iii) mulai
di sekitar 4000 tahun lalu muncul penghuni baru di Kepulauan Indonesia yang
dikenal sebagai penutur bahasa Austronesia. Berdasarkan karakter fsiknya, makhluk
manusia ini tergolong dalam ras Mongolid. Ras inilah yang kemudian berkembang
hingga menjadi bangsa Indonesia sekarang.
Beberapa spesimen (penggolongan) manusia Homo sapiens
dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Manusia
Wajak
Manusia Wajak (Homo wajakensis) merupakan satu-satunya temuan di Indonesia yang untuk
sementara dapat disejajarkan perkembangannya dengan manusia modern awal dari
akhir Kala Pleistosen. Pada tahun 1889, manusia Wajak ditemukan oleh B.D. van
Rietschoten di sebuah ceruk di lereng pegunungan karst di barat laut
Campurdarat, dekat
Tulungagung, Jawa Timur. Sartono Kartodirjo (dkk) menguraikan tentang
temuan itu, berupa tengkorak, termasuk fragmen rahang bawah, dan beberapa buah
ruas leher. Temuan Wajak itu adalah Homo sapiens.
Mukanya datar dan lebar, akar hidungnya lebar dan bagian
mulutnya menonjol sedikit. Dahinya agak miring dan di atas matanya ada busur
kening nyata. Tengkorak ini diperkirakan milik seorang perempuan berumur 30
tahun dan mempunyai volume otak 1.630 cc. Wajak 2 ditemukan oleh Dubois pada
tahun 1890 di tempat yang sama. Temuan berupa fragmen-fragmen tulang tengkorak,
rahang atas dan rahang bawah, serta
tulang paha dan tulang kering. Pada tengkorak ini terlihat juga busur kening
yang nyata. Pada tengkorak laki-laki perlekatan otot sangat nyata.
Langit-langit juga dalam. Rahang bawah besar dengan gigigigi yang besar pula.
Kalau menutup gigi muka atas mengenai gigi
muka bawah. Dari tulang pahanya dapat diketahui bahwa tinggi tubuhnya kira-kira
173 cm.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia wajak bertubuh
tinggi dengan isi tengkorak yang besar. Wajak sudah termasuk Homo sapiens, jadi sangat
berbeda ciri-cirinya dengan Pithecanthropus. Manusia Wajak mempunyai ciri-ciri
baik Mongoloid maupun Austromelanesoid. Diperkirakan dari manusia Wajak inilah
sub-ras Melayu Indonesia dan turut pula berevolusi menjadi ras Austromelanesoid
sekarang. Hal itu dapat dilihat dari
ciri tengkoraknya yang sedang atau agak lonjong itu berbentuk agak persegi di
tengah-tengah atap tengkoraknya dari muka kebelakang. Muka cenderung lebih
Mongoloid, oleh karena sangat datar dan pipinya sangat menonjol ke samping.
Beberapa ciri lain juga memperlihatkan ciri-ciri ke dua ras di atas. Temuan
Wajak menunjukkan pada kita bahwa sekitar 40.000 tahun yang lalu Indonesia sudah
didiami oleh Homo sapiens yang rasnya sukar dicocokkan dengan ras-ras pokok yang terdapat
sekarang, sehingga manusia Wajak dapat dianggap sebagai suatu ras tersendiri.
Manusia Wajak tidak langsung berevolusi dari Pithecanthropus,
tetapi mungkin tahapan Homo neanderthalensis yang belum ditemukan di Indonesia ataupun dari Homo
neanderthalensis di tempat Pithecanthropus erectus ataupun satu ras yang mungkin
berevolusi ke arah Homo yang ditemukan di Indonesia. Manusia Wajak itu tidak
hanya mendiami Kepulauan Indonesia bagian Barat saja, akan tetapi juga di
sebagian Kepulauan
Indonesia bagian Timur. Ras Wajak ini merupakan penduduk Homo
sapiens yang kemudian menurunkan ras-ras yang kemudian kita kenal
sekarang. Melihat ciri-ciri Mongoloidnya lebih banyak, maka ia lebih dekat
dengan sub-ras Melayu-Indonesia. Hubungannya dengan ras Australoid dan
Melanesoid sekarang lebih jauh, oleh
karena kedua sub-ras ini baru mencapai bentuknya yang sekarang di tempatnya
yang baru. tetapi memang mungkin juga bahwa ras Austromelanesoid yang dahulu
berasal dari ras Wajak.
b.
Manusia Liang
Bua
Pengumuman tentang penemuan manusia Homo
floresiensis
tahun
2004 menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Sisa-sisa manusia ditemukan di
sebuah gua Liang Bua oleh tim peneliti gabungan Indonesia dan Australia. Sebuah
gua permukiman prasejarah di Flores. Liang Bua bila diartikan secara harfah merupakan
sebuah gua yang dingin. Sebuah gua yang sangat lebar dan tinggi dengan
permukaan tanah yang datar, merupakan tempat bermukim yang nyaman bagi manusia
pada masa pra-aksara. Hal itu bisa dilihat dari kondisi lingkungan sekitar gua
yang sangat indah,
yang berada di sekitar bukit dengan kondisi tanah yang datar di depannya. Liang
Bua merupakan sebuah temuan manusia modern awal dari akhir masa Pleistosen di
Indonesia yang menakjubkan yang diharapkan dapat menyibak asal usul manusia di
Kepulauan
Indonesia.
Manusia Liang Bua ditemukan oleh Peter Brown dan Mike J.
Morwood pada bulan September 2003 lalu. Temuan itu dianggap sebagai penemuan spesies
baru yang kemudian diberi nama Homo floresiensis, sesuai dengan tempat ditemukannya fosil Manusia Liang Bua.
Pada tahun 1950-an, sebenarnya Manusia Liang Bua telah memberikan
data-data tentang adanya kehidupan pra-aksara. Saat Th. Verhoeven lebih dahulu
menemukan beberapa fragmen tulang manusia di Liang Bua, ia menemukan tulang iga
yang berasosiasi dengan berbagai alat serpih dan gerabah. Tahun 1965, ditemukan
tujuh buah rangka manusia beserta beberapa bekal kubur yang antara lain berupa
beliung dan barang-barang gerabah.
Diperkirakan Liang Bua merupakan sebuah situs neolitik dan
paleometalik. Manusia Liang Bua mempunyai ciri tengkorak yang panjang dan rendah,
berukuran kecil, dengan volume otak 380 cc. Kapasitas kranial tersebut berada
jauh di bawah Homo erectus (1.000 cc), manusia modern Homo sapiens (1.400 cc), dan
bahkan berada di bawah volume otak simpanse (450 cc).
Pada tahun 1970, R.P Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
melanjutkan penelitian beberapa kerangka manusia yang ditemukan di lapisan
atas, temuan itu sebanding dengan temuantemuan rangka manusia sebelumnya. Hasil
temuan itu menunjukkan bahwa Manusia Liang Bua secara kronologis menunjukkan
hunian dari fase zaman Paleolitik, Mesolitik, Neolitik, dan Paleolitik.
Menurut Teuku Jacob, Manusia Liang Bua secara kultural berada dalam
konteks zaman Mesolitik, dengan ciri Australomelanesid, yaitu bentuk tengkorak
yang memanjang. Tahun 2003 diadakan penggalian oleh R.P. Soejono dan Mike J.
Morwood, bekerjasama
antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan University of New England,
Australia. Penggalian itu menghasilkan temuan berupa sisa manusia tidak kurang
dari enam individu yang menunjukkan aspek morfologis dan postur yang sejenis
dengan Liang Bua 1, yang mempunyai kesamaan dengan alat-alat batu dan sisa-sisa
binatang komodo dan spesies kerdil gajah purba jenis stegodon. Temuan itu sempat
menjadi bahan perdebatan mengenai status taksonominua, benarkah Manusia Liang
Bua itu termasuk dalam spesies baru, yaitu Homo florensiensis, atau sebagai satu
jenis spesies yang telah ada di kalangan genus Homo?
Dalam pengamatan yang lebih mendalam terhadap manusia
Flores itu, ternyata ada percampuran antara karakter kranial yang cukup
menonjol antara karakter Homo erectus dan Homo sapiens. Seluruh karakter kranio-fasial dari Manusia Liang Bua 1 (LB1)
dan Liang Bua 6 (LB6) menunjukkan dominasi karakter arkaik yang sering
ditemukan pada Homo erectus, walaupun beberapa aspek modern Homo sapiens juga sangat terlihat
jelas. Namun demikian, karakter Homo sapiens hendaknya dilihat sebagai atribut tingkatan evolusi dalam
spesies ini. Bila dikaitkan dengan masa hidup Manusia Liang
Bua sekitar 18.000 tahun yang lalu, maka LB 1 dan LB 6 seharusnya dipandang
sebagai satu dari variasi Homo sapiens.
3.
Perdebatan Antara Pithecantropus ke Homo Erectus
Penemuan fosil-fosil
Pithecanthropus oleh Dubois dihubungkan dengan teori evolusi manusia yang
dituliskan oleh Charles Darwin. Harry Widiyanto menuliskan perdebatan itu
seperti berikut. Pemenuan fosil Pithecanthropus oleh Dubois yang dipublikasikan
pada tahun 1894 dalam berbagai majalah ilmiah melahirkan perdebatan. Dalam
publikasinya itu
Dubois menyatakan bahwa, menurut teori evolusi Darwin, Pithecanthropus
erectus
adalah
peralihan kera ke manusia. Kera merupakan moyang manusia. Pernyatakan
Dubois itu kemudian menjadi perdebatan, apakah benar atap tengkorak dengan volume
kecil, gigi-gigi berukuran besar, dan tulang paha yang berciri modern itu berasal
dari satu individu? Sementara
orang menduga bahwa tengkorak tersebut merupakan tengkorak seekor gibon,
gigi-gigi merupakan milik Pongo sp., dan tulang pahanya milik manusiamodern?
Lima puluh tahun kemudian terbukti bahwa gigi-gigi tersebut memang berasal dari
gigi Pongo Sp., berdasarkan ciri-cirinya yang berukuran besar, akar gigi yang kuat
dan terbuka, dentikulasi yang tidak individual, dan permukaan
occulsal yang sangat berkerut-kerut.
Perdebatan itu
kemudian berlanjut hingga ke Eropa, ketika Dubois mempresentasikan penemuan
tersebut dalam seminar internasional zoologi pada tahun 1895 di Leiden,
Belanda, dan
dalam pameran publik British Zoology Society di London. Setelah seminar dan
pameran itu banyak ahli yang tidak ingin melihat temuannya itu lagi. Dubois pun
kemudian menyimpan semua hasil
temuannya itu, hingga pada tahun 1922 temuan itu mulai diteliti oleh Franz
Weidenreich. Temuan-temuan Dubois itu menandai munculnya sebuah kajian ilmu
paleoantropologi telah lahir di
Indonesia.
Tahun 1920-an
merupakan periode yang luar biasa bagi teori evolusi manusia. Teori itu terus
menjadi perdebatan, para ahli paleontologi berbicara tentang ontogenesa dan
heterokronis.
Seorang teman Dubois, Bolk melakukan formulasi teori foetalisasi yang sangat
terkenal. Dubois telah melakukan penemuan fosil missing-link. Sementara Bolk
menemukan modalitas evolusi
dengan menafsirkan bahwa peralihan dari kera ke manusia terjadi melalui
perpanjangan perkembangan fetus. Dubois dan Bolk kemudian bertemu dalam jalur
evolutif dari Heackle yang sangat terkenal, bahwa flogenesa dan ontogenesa sama
sekali tidak dapat dipisahkan. Penemuan-penemuan kemudian bertambah gencar sejak
tahun 1927. Penemuan situs Zhoukoudian di dekat Beijing, menghasilkan sejumlah
besar fosil-fosil manusia, yang diberi nama Sinanthropus pekinensis. Tengkorak-tengkorak
fosil beserta tulang paha tersebut menunjukkan ciri-ciri yang sama dengan Pithecanthropus
erectus.
Seorang ahli biologi
menyatakan bahwa standar zoologis tidak
dimungkinkan memisahkan Pithecantropus erectus dan Sinanthropus pekinensis dengan genus yang berbeda dengan
manusia modern. Pithecanthropus adalah satu tahapan dalam proses evolusi ke
arah
Homo
sapiens dengan kapasitas tengkorak yang kecil. Karena itulah perbedaan
itu hanya perbedaan species bukan perbedaan genus. Dalam pandangan ini maka Pithecanthrotus
erectus harus
diletakan dalam genus Homo, dan untuk mempertahankan species aslinya, dinamakan
Homo
erectus.
Maka berakhirlah debat pandang mengenai Pithecanthropus dari Dubois dalam
sejarah
perkembangan manusia yang berjalan puluhan tahun. Saat ini Pithecanthropus
diterima sebagai hominid dari Jawa, bagian dari Homo erectus.
Komentar
Posting Komentar