Sejarah - 4. Islam Dan Jaringan Antar Pulau
Kepulauan Indonesia memiliki laut dan daratan yang luas. Para nelayan pergi melaut dan pulang dengan membawa hasil tangkapannya. Begitu juga di pelabuhan terlihat lalu lalang kapal yang membongkar dan memuat barang. Sungguh menakjubkan hamparan laut yang sangat luas ciptaan Tuhan. Coba kamu renungkan alam semesta, lautan dan daratan semua diciptakanNya untuk kepentingan hidup kita. Marilah kita syukuri semua itu dengan menjaga lingkungan laut dan daratan sebaik-baiknya.
Sejak lama laut telah berfungsi sebagai jalur pelayaran dan perdagangan antar suku bangsa di Kepulauan Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia. Pelaut tradisional Indonesia telah memiliki keterampilan berlayar yang dipelajari dari nenek moyang secara turun-temurun. Bagi para pelaut, samudra bukan sekadar suatu bentangan air yang sangat luas. Setiap perubahan warna, pola gerak air, bentuk gelombang, jenis burung, dan ikan yang mengitarinya dapat membantu pelaut dalam mengambil keputusan atau tindakan untuk menentukan arah perjalanan. Sejak dulu mereka sudah mengenal teknologi arah angin dan musim untuk menentukan perjalanan pelayaran dan perdagangan. Kapal pedagang yang berlayar ke selatan menggunakan musim utara dalam Januari atau Februari dan kembali lagi pulang jika angina bertiup dari selatan dalam Juni, Juli, atau Agustus. Angin musim barat daya di Samudra Hindia adalah antara April sampai Agustus, cara yang paling diandalkan untuk berlayar ke timur. Mereka dapat kembali pada musim yang sama setelah tinggal sebentar—tapi kebanyakan tinggal untuk berdagang—untuk menghindari musim perubahan yang rawan badai dalam Oktober dan kembali dengan musim timur laut. Bacaan berikut akan memaparkan tentang aktivitas perdagangan antarpulau pada masa awal perkembangan Islam di Indonesia. Memahami aktivitas pelayaran dan perdagangan antarpulau yang membawa serta pesan-pesan agama ini dapat menjadi pelajaran dan menambah rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan data arkeologis seperti
prasasti-prasasti maupun data historis berupa berita-berita asing, kegiatan
perdagangan di Kepulauan Indonesia sudah dimulai sejak abad pertama Masehi.
Jalurjalur pelayaran dan jaringan perdagangan Kerajaan Sriwijaya dengan negeri-negeri
di Asia Tenggara, India, dan Cina terutama berdasarkan berita-berita Cina telah
dikaji, antara lain oleh W. Wolters (1967).
Demikian pula dari catatan-catatan sejarah Indonesia
dan Malaya yang dihimpun dari sumber-sumber Cina oleh W.P Groeneveldt, telah
menunjukkan adanya jaringan–jaringan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di
Kepulauan Indonesia dengan berbagai negeri terutama dengan Cina. Kontak dagang
ini sudah berlangsung sejak abad-abad pertama Masehi sampai dengan abad ke-16.
Kemudian kapal-kapal dagang Arab juga sudah mulai berlayar ke wilayah Asia
Tenggara sejak permulaan abad ke-7.
Dari literatur Arab banyak sumber berita tentang perjalanan mereka ke Asia
Tenggara. Adanya jalur pelayaran tersebut menyebabkan munculnya jaringan perdagangan
dan pertumbuhan serta perkembangan kota-kota pusat kesultanan dengan kota-kota bandarnya pada abad
ke-13 sampai abad ke-18 misalnya, Samudra Pasai, Malaka, Banda Aceh, Jambi,
Palembang, Siak Indrapura, Minangkabau, Demak, Cirebon, Banten, Ternate,
Tidore, Goa-Tallo, Kutai, Banjar, dan kota-kota lainnya
Dari sumber literatur Cina, Cheng Ho mencatat terdapat kerajaan
yang bercorak Islam atau kesultanan, antara lain, Samudra Pasai dan Malaka yang
tumbuh dan berkembang sejak abad ke-13 sampai abad ke-15, sedangkan Ma Huan juga memberitakan adanya komunitas-komunitas
Muslim di pesisir utara Jawa bagian timur. Berita Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) memberikan gambaran mengenai keberadaan jalur pelayaran jaringan perdagangan,
baik regional maupun internasional. Ia menceritakan tentang lalu lintas dan kehadiran para pedagang di
Samudra Pasai yang berasal dari Bengal, Turki, Arab, Persia, Gujarat, Kling,
Malayu, Jawa, dan Siam. Selain itu Tome Pires juga mencatat kehadiran para
pedagang di Malaka dari Kairo, Mekkah, Aden, Abysinia, Kilwa,
Malindi, Ormuz, Persia, Rum, Turki, Kristen Armenia, Gujarat, Chaul, Dabbol,
Goa, Keling, Dekkan, Malabar, Orissa, Ceylon, Bengal, Arakan, Pegu, Siam, Kedah,
Malayu, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, Cossin Cina, Cina, Lequeos, Bruei,
Lucus, Tanjung Pura, Lawe, Bangka,
Lingga, Maluku, Banda, Bima, Timor, Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi,
Tongkal, Indragiri, Kapatra, Minangkabau, Siak, Arqua, Aru, Tamjano, Pase, Pedir, dan Maladiva
Berdasarkan kehadiran sejumlah pedagang dari berbagai negeri dan bangsa di Samudra Pasai, Malaka, dan bandar-bandar di pesisir utara Jawa sebagaimana diceritakan Tome Pires, kita dapat mengambil kesimpulan adanya jalur-jalur pelayaran dan jaringan perdagangan antara beberapa kesultanan di Kepulauan Indonesia baik yang bersifat regional maupun internasional. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Nusantara dengan Arab meningkat menjadi hubungan langsung dan dalam intensitas tinggi. Dengan demikian aktivitas perdagangan dan pelayaran di Samudra Hindia semakin ramai. Peningkatan pelayaran tersebut berkaitan erat dengan makin majunya perdagangan di masa jaya pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750-1258).
Dengan ditetapkannya Baghdad menjadi pusat pemerintahan menggantikan Damaskus (Syam), aktivitas pelayaran dan perdagangan di Teluk Persia menjadi lebih ramai. Pedagang Arab yang selama ini hanya berlayar sampai India, sejak abad ke-8 mulai masuk ke Kepulauan Indonesia dalam rangka perjalanan ke Cina. Meskipun hanya transit, tetapi hubungan Arab dengan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia terjalin secara langsung. Hubungan ini menjadi semakin ramai manakala pedagang Arab dilarang masuk ke Cina dan koloni mereka dihancurkan oleh Huang Chou, menyusul suatu pemberontakan yang terjadi pada 879 H.
Orang–orang Islam melarikan diri dari Pelabuhan Kanton dan meminta perlindungan Raja Kedah dan Palembang. Ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada 1511, dan usaha Portugis selanjutnya untuk menguasai lalu lintas di selat tersebut, mendorong para pedagang untuk mengambil jalur alternatif, dengan melintasi Semenanjung atau pantai barat Sumatra ke Selat Sunda.
Pergeseran ini melahirkan pelabuhan perantara yang
baru, seperti Aceh, Patani, Pahang, Johor, Banten, Makassar dan lain
sebagainya. Saat itu, pelayaran di Selat Malaka sering diganggu oleh bajak laut.
Perompakan laut sering terjadi pada jalur-jalur perdagangan yang ramai, tetapi
kurang mendapat pengawasan oleh penguasa setempat. Perompakan itu sesungguhnya
merupakan bentuk kuno kegiatan dagang. Kegiatan tersebut dilakukan karena
merosotnya keadaan politik dan mengganggu kewenangan pemerintahan yang berdaulat
penuh atau kedaulatannya di bawah penguasa kolonial.Akibat dari aktivitas bajak
laut, rute pelayaran perdagangan yang semula melalui Asia Barat ke Jawa lalu
berubah melalui pesisir Sumatra dan Sunda.
Dari pelabuhan ini pula para
pedagang singgah di Pelabuhan Barus, Pariaman, dan Tiku. Perdagangan pada
wilayah timur Kepulauan Indonesia lebih terkonsentrasi pada perdagangan cengkih
dan pala. Dari Ternate dan Tidore (Maluku) dibawa barang komoditi ke
Somba Opu, ibu kota Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Somba Opu pada abad ke-16
telah menjalin hubungan perdagangan dengan Patani, Johor, Banjar, Blambangan,
dan Maluku. Adapun Hitu (Ambon) menjadi pelabuhan yang menampung komoditi cengkih yang datang dari Huamual (Seram
Barat), sedangkan komoditi pala berpusat di Banda. Semua pelabuhan tersebut
umumnya didatangi oleh para pedagang Jawa, Cina, Arab, dan Makassar. Kehadiran
pedagang itu mempengaruhi corak kehidupan dan budaya setempat, antara lain
ditemui bekas koloninya seperti Maspait (Majapahit), Kota Jawa (Jawa) dan Kota
Mangkasare (Makassar).
Pada abad ke-15, Sulawesi Selatan telah didatangi pedagang Muslim dari Malaka, Jawa, dan Sumatra. Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Muslim di Gowa terutama Raja Gowa Muhammad Said (1639-1653) dan putra penggantinya, Hasanuddin (1653-1669) telah menjalin hubungan dagang dengan Portugis. Bahkan Sultan Muhammad Said dan Karaeng Pattingaloang turut memberikan saham dalam perdagangan yang dilakukan Fr. Vieira, meskipun mereka beragama Katolik. Kerjasama ini didorong oleh adanya usaha monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilancarkan oleh kompeni Belanda di Maluku.
Hubungan Ternate, Hitu dengan Jawa sangat erat
sekali. Ini ditandai dengan adanya seorang raja yang dianggap benar-benar telah
memeluk Islam ialah Zainal Abidin (1486-1500) yang pernah belajar di Madrasah Giri. Ia dijuluki sebagai Raja Bulawa, artinya raja
cengkih, karena membawa cengkih dari Maluku sebagai persembahan. Cengkih, pala,
dan bunga pala (fuli) hanya terdapat di Kepulauan Indonesia bagian timur, sehingga
banyak barang yang sampai ke Eropa harus melewati jalur perdagangan yang
panjang dari Maluku sampai ke Laut Tengah. Cengkih yang diperdagangkan adalah
putik bunga tumbuhan hijau (szygium aromaticum atau caryophullus aromaticus) yang dikeringkan. Satu pohon ini ada yang menghasilkan cengkih
sampai 34 kg. Hamparan cengkih ditanam di perbukitan di pulau-pulau kecil
Ternate, Tidore, Makian, dan Motir di lepas pantai
barat Halmahera dan baru berhasil ditanam di pulau yang relatif besar, yaitu
Bacan, Ambon dan Seram.
Meningkatnya ekspor lada dalam
kancah perdagangan internasional, membuat pedagang Nusantara mengambil alih
peranan India sebagai pemasok utama bagi pasaran Eropa yang berkembang dengan
cepat. Selama periode (1500- 1530) banyak terjadi gangguan di laut sehingga bandar-bandar
Laut Tengah harus mencari pasokan hasil bumi Asia ke Lisabon. Oleh karena itu
secara berangsur jalur perdagangan yang ditempuh pedagang muslim bertambah
aktif, ditambah dengan adanya perang di laut Eropa, penaklukan Ottoman atas
Mesir (1517) dan pantai Laut Merah Arabia (1538) memberikan dukungan yang besar
bagi berkembangnya pelayaran Islam di Samudra Hindia.
Meskipun banyak kota bandar, namun yang berfungsi untuk melakukan ekspor dan impor komoditi pada umumnya adalah kota-kota bandar besar yang beribu kota pemerintahan di pesisir, seperti Banten, Jayakarta, Cirebon, Jepara - Demak, Ternate, Tidore, Goa-Tallo, Banjarmasin, Malaka, Samudra Pasai, Kesultanan Jambi, Palembang dan Jambi. Kesultanan Mataram berdiri dari abad ke-16 sampai ke-18. Meskipun kedudukannya sebagai kerajaan pedalaman namun wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar pulau Jawa yang merupakan hasil ekspansi Sultan Agung. Kesultanan Mataram juga memiliki kota-kota bandar, seperti Jepara, Tegal, Kendal, Semarang, Tuban, Sedayu, Gresik, dan Surabaya. Dalam proses perdagangan telah terjalin hubungan antaretnis yang sangat erat. Berbagai etnis dari kerajaan-kerajaan tersebut kemudian berkumpul dan membentuk komunitas. Oleh karena itu, muncul nama-nama kampung berdasarkan asal daerah. Misalnya,di Jakarta terdapat perkampungan Keling, Pekojan, dan kampungkampung lainnya yang berasal dari daerah-daerah asal yang jauh dari kota-kota yang dikunjungi, seperti Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, dan Kampung Bali.
Pada zaman pertumbuhan dan perkembangan Islam, sistem jual beli barang masih dilakukan dengan cara barter. Sistem barter dilakukan antara pedagang-pedagang dari daerah pesisir dengan daerah pedalaman, bahkan kadang-kadang langsung kepada petani. Transaksi itu dilakukan di pasar, baik di kota maupun desa. Tradisi jual-beli dengan sistem barter hingga kini masih dilakukan oleh beberapa masyarakat sederhana yang berada jauh di daerah terpencil. Di beberapa kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam telah menggunakan mata uang sebagai nilai tukar barang. Mata uang yang dipergunakan tidak mengikat pada mata uang tertentu, kecuali ada ketentuan yang diatur pemerintah daerah setempat.
Kemunduran perdagangan dan kerajaan yang
berada di daerah tepi pantai disebabkan karena kemenangan militer dan ekonomi Belanda,
dan munculnya kerajaan-kerajaan agraris di pedalaman yang tidak menaruh perhatian pada perdagangan.
Komentar
Posting Komentar